"Batik Nasional" Oleh kenzie shane setiawan (cerpen)

Kenzie Shane S.
0

 

Batik Nasional

Oleh kenzie shane setiawan

Pada pukul 7 malam di kampung sukabumi, diadakanlah sebuah festival batik di kampung Sukabumi. Banyak orang yang ingin mengunjungi festival tersebut, terlebih lagi wanita dikampung itu yang sudah siap menyediakan dompetnya masing masing untuk membeli dan memamerkan Pakaian Batik yang ada di festival batik tersebut.

Keluarga Fitri ‘pun hampir tidak terkecuali dari antara orang-orang yang ingin mengunjungi festival tersebut. Mengapa ada kata ‘hampir’? Sebab, walaupun hampir semua anggota keluarga ingin pergi, Fitri nampaknya tidak ingin dan hanya terpaksa ikut oleh karena takut diancam dengan disita handphone-nya.

“Bosan sekali rasanya, harus pergi ke festival batik di kampungku. Padahal, aku maunya di rumah aja… Main hp, baringan, ugh.” keluh Fitri pada saat sedang bersiap untuk pergi. Selain Fitri, Anggota keluarga lainnya juga sedang mempersiapkan diri untuk pergi ke festival batik tersebut. Namun nampaknya persiapan ini akan memakan sedikit waktu yang lebih lama sebab oleh beberapa hal yang terjadi berikut: Ayah dan adik Fitri kesusahan untuk mengikat dasi bermotif hal kesukaan mereka, Ibu yang masih bingung memilih busana yang ingin ia kenakan, dan Fitri yang sengaja memperlambat dengan harapan agar tidak pergi ke festival tersebut.

*tinit* *tinit* *tinit* Alarm jam ayah Fitri berbunyi, nampaknya mereka akan sedikit telat kesana. Fitri terlihat bahagia untuk sesaat sebelum akhirnya mereka sekeluarga tetap pergi walaupun ayah dan adik tidak memakai dasi dan ibu tidak memakai busana yang menurutnya cocok.

Setelah berjalan selama kurang lebih 5 menit, mereka akhirnya sampai pada festival tersebut. Festival tersebut penuh dengan orang orang dan cahaya-cahaya kamera orang berfoto. “Wah ramai sekali disini!” ucap Ibu ketika sampai di dalam. “Bu, coba lihat batik ini, bagus banget! kok bisa sih pak?” panggil Adik sambil bertanya kepada penjual ketika melihat suatu batik yang nampaknya ialah batik Priyangan. “iya dong, kan batik priyangan dari tasikmalaya ini kan meonjolkan warna cerah dan motif tumbuhan. kesederhanaan dan kelas tercermin dlm batik ini, mencerminkan keindahan alam dan keberagaman budaya.” Penjualnya menjelaskan.

Perhatian Fitri tertarik, ia pun mulai penasaran. “Hah? memangnya gimana sih? Kok bisa ada maknanya begitu, tahu dari mana?” tanya Fitri. “Oh itu mah susah-gampang juga sih, soalnya itu tergantung dengan kreativitas orang yang membuatnya, namun terkadang kita tinggal liat aja bentuk-bentuk dan palet warnanya, kita juga mungkin harus kreatif dikit untuk memahaminya. Sebagai contoh, batik tadi, BATIK PRIYANGAN, kita dapat lihat dari bentuk polanya yang seperti daun atau batang-batangan tumbuhan serta dengan palet warnanya yaitu hitam sebagai dasar,  putih untuk outline dan hijau muda dan toska sebagai warna ‘tumbuhan’ nya.” Pak Penjual menjelaskan lagi.

Fitri menjadi semakin tertarik untuk lebih mengerti tentang batik, dan juga ia menjadi semangat untuk melihat batik batik lain. Ia menjadi yang paling semangat disana. Mereka mengelilingi festival tersebut sambil belajar juga disana. Kemudian...

“Eh, baru nyadar nih, dari SD disuruh pakai batik, SMP masih, SMA juga, sampai nikah juga masih pakai, hahaha sebenarnya kita emang ga pernah lepas dari batik ya?” gurau ayah dengan penjual tadi sebelum pulang, sebab tanpa terasa jam sudah menunjuk ke pukul 9 malam. “Iya. kan Batik merupakan salah satu identitas Bangsa Indonesia, dikenal karena teknik pembuatannya yang sulit dan butuh kreativitas. Batik mempunyai banyak arti, mulai dari kebudayaan lokal, alam sampai sejarah. ” jawab si penjual. “Ah yaudah deh, pulang dulu ya dek!” ucap Ayah, kemudian sang penjual juga menjawab balik, “Iya, makasih ya ko udah mampir!”. Dan mereka semua balik ke rumah.

TAMAT.....


SAYA TIDAK MENGGUNAKAN AI! ini dibuat di tahun 2025 silam.

Tags
  • Newer

    "Batik Nasional" Oleh kenzie shane setiawan (cerpen)

Post a Comment

0 Comments

Post a Comment (0)
3/related/default